Politik Bisnis Internasional
“Silahkan masuk, dek!” kata Pak
Dennasa, mempersilahkan kami untuk masuk kedalam Rumah bacanya, dan dari depan
Rumah bacanya banyak berjejer buku-buku bacaan yang tersusun rapi mulai dari
tangga sampai kedalam ruangan Rumah Baca,
“ini punya bapak semua?” saya
menanyakannya, “iya, ini milik Rumah Baca, dan ada sebagian sumbangan dari
beberapa orang relawan untuk menembah koleksi buku Rumah Baca” jawab Pak
Dennasa.
Darmawan Dennasa (41) merupakan
nama lengkapnya, biasa disapa dengan Pak Dennasa bersama istrinya Alwiah Hasan
(35) adalah orang yang menginisiasi terbentuknya Rumah Hijau Dennasa. Sebuah
kawasan konservasi lingkungan yang berada di Kelurahan Tamallayang, Kecamatan
Botonompo, Kabupaten Gowa.
Rumah Hijau Dennasa
merupakan salah satu dari beberapa kawasan konservasi yang ada di Indonesia
khususnya di Sulawesi Selatan, namun kawasan konservasi tersebut lebih banyak
dikelola oleh pemerintah. Dari data yang diperoleh di Kementrian Lingkungan
Hidup & Kehutanan (KLHK), KLHK baru mengesahkan dokumen penataan kawasan
konservasi (KK) sebanyak 124 unit. Padahal, kawasan konservasi yang ada di
Indonesia jumlahnya mencapai 521 unit. Penataan tersebut meliputi 49 zonasi
Taman Nasional, 49 blog Taman Wisata Alam, 12 blog Cagar Alam, 6 blog Suaka
Margasatwa, 5 blog Taman Hutan Raya, serta 3 blog Taman Buru. Juga ada 3 unit
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH). Di Sulawesi Selaatan
sendiri ada beberapa kawasan konservasi yang telah mendapat dokumen resmi dari
pemerintah, namun lebih banyak yang berorientasi dibidang kelautan dan
perikanan. Diantaranya yaitu, Taman Nasional Laut Taka Bone Rate, Taman
Nasional Bantimurung Bulusaraung, Taman Wisata Perairan Kapoposang, Kawasan
Konservasi Perairan Kabupaten Luwu Utara, Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten
Pangkajene dan Kepulauan, Kawasan Konservasi Kab. Kep. Selayar Pulo Kauna
Kayuadi dan Kawasan Konservasi Kab. Kep. Selayar Pulo Pasi Gusung.
Lokasi RHD sendiri tak
jauh dari jalan poros trans sulawesi di Kelurahan Tamallayang, tepatnya Jalan
Borongtala, Kecamatan Botonompo, Kabupaten Gowa. Dan kita sudah bisa
menggunakan Google Maps untuk sampai
kesana. Dan bisa ditempuh melalui perjalanan darat dari ibukota Provinsi
Sulawesi Selatan yaitu Kota Makassar, selama kurang lebih dua jam.
Rumah Hijau Denassa (RHD)
mulai dirintis pada tahun 2007 silam, sesuai dengan yang tertulis di blog Rumah
Hijau Denassa dan hal tersebut diaminkan oleh Pak Denassa. Namun, RHD dibuka
nanti pada tahun 2009, karena menurutnya lama pada saat proses penanaman dan
proses pendirian bangunan. Karena dana untuk membangun RHD diperoleh dari
swadaya masyarakat setempat. Ada beberapa hal penting yang mendorong terbentuknya
RHD menurut Pak Denassa sendiri, diantaranya kepedulian beliau terhadap
lingkungan yakni menurutnya ada beberapa tanaman yang sudah mulai jarang
terlihat dan yang sudah tidak diketahui lagi dan hal tersebut menjadi salah
satu masalah lingkungan jika tidak diantisipasi dan RHD menjadi salah satu
solusinya. Kemudian menurutnya di kecamatan ini butuh tempat untuk orang untuk
bisa berkumpul dan beriteraksi secara non-formal.
Tujuan utama didirikannya
yaitu menyelamatkan kekayaan hayati, menyelamatkan beberapa jenis tumbuhan yang
hampir punah untuk ditanam kembali dan dibudidayakan, tak hanya tumbuhan, ada
juga beberapa jenis hewan didalamnya atau dalam artian dibuatkan tempat yang
menjadi habitatnya.
Selain kawasan
konservasi, Rumah Hijau Dennasa (RHD) juga merupakan tempat edukasi, atau
tempat belajar bersama dengan fasilitas-fasilitas belajar. Yakni kelas
komunitas yang anggotanya mulai dari yang belum sekolah (anak usia dini) sampai
yang SMA dan proses belajar mengajar pada kelas komunitas rutin dilaksanakan,
dan menurutnya untuk orang yang ingin datang belajar di RHD tidak dibatasi
usianya. Selain kelas komunitas, banyak juga orang yang datang untuk belajar di
RHD, baik itu dari sekolah, universitas maupun dari komunitas-komunitas lain.
“Sebagai tempat edukasi,
RHD adalah tempat belajar, jadi dia dibuatkan fasilitas untuk mendukung proses
belajar, itu seperti taman baca, perpustakaan, dan atau wifi, dan juga
dibuatkan kegiatan, yang bertujuan agar orang mendapatkan informasi,
pengetahuan, bahkan keahlian baru.” Kata Pak Dennasa.
Awal kegiatannya itu adalah diskusi warga tentang biogas, belajar tentang biogas, dan semua warga disekitar Rumah Hijau Denassa membahas tentang biogas. Lalu dengan usaha dan biaya sendiri mereka membuat biogas. Setelah itu ada diskusi tematik, membahas tentang layanan publik. Lalu berkembang, beberapa dari sekolah-sekolah kemudian datang ke RHD, mulai dari komite sekolah, kepala sekolah, bahkan murid-muridnya juga diajak, sementara belajar dibawa ke RHD karena di RHD sendiri banyak buku yang bisa digunakan untuk belajar atau menggunakan tanaman sebagai media ajar, dari situ kemudian berkembang terus.
Terbentuknya Rumah Hijau Denassa
(RHD) tentunya merupakan hasil atau proses dari kepedulian Pak Denassa sendiri
terhadap lingkungan atau tanaman atau alam dan edukasi terhadap anak usia dini
dan juga edukasi kepada masyarakat luas tentang pentingnya alam dalam mendukung
kehidupan manusia. Hal itulah yang membuat Darmawan Denassa menjadi salah satu
dari enam sosok yang dianugerahi penghargaan Peduli PAUD 2017, yang penghargaan
tersebut diberikan langsung oleh Ibu Negara Iriana Joko Widodo pada puncak rangkaian
peringatan Hari Anak Nasional 2017 di Hotel Allium Tanggerang, Banten.
“Lingkungan itu sebenarnya dampaknya
manusia, awal dan ujungnya itu adalah manusia, ya mungkin yang pertama yang
mati adalah hewan, tumbuhan, tapi itu nanti ujungnya manusia juga nanti yang
menderita. Kalau lingkungannya baik, maka hasilnya dampak yang ditimbulkan itu
akan baik, akan begitu kondisinya.” Kata Pak Denassa ketika menjawab salah satu
pertanyaan yang saya ajukan terkait edukasi tentang lingkungan.

Ada beberapa tanaman yang kemudian dibudidayakan dan diedukaasikan kepada peserta belajar, diantaranya ada White Spider Lily, ada buah mahkota dewa, ada juga Rappo-rappo Jawa(Coppeng), Angsana(Campaga), Ara(Biraeng), Bagore, Tambara, Lobi-lobi(Lobe-lobe) dan beberapa lagi. Selain itu ada juga salah satu jenis fauna yang ada di RHD yaitu Kupu-kupu Demoleus atau Kupu-kupu Jeruk.
Sesuai dengan apa yang telah
dilakukan RHD dan apa yang dilakukan didalam RHD itu sendiri sejak 10 tahun
terakhir merupakan sebuah manifestasi yang sangat besar tentang kepedulian
terhadap alam atau lingkungan. RHD merupakan sebuah bentuk Pariwisata Baru atau
New Tourism, yang kemudian
dimanfaatkan sebagai salah satu cara untuk membranding RHD sendiri, dengan
memanfaatkan trend yang berlaku di masyarakat sekarang.
“Bagaimana respon
pemerintah tentang RHD” tanya ku. “nah itu jangan tanyakan ke saya, tanya ke
pemerintahnya, ya tapi menurut saya, ya mereka senang dengan adanya RHD”.
Jawabnya sambil tersenyum. Dari Pemerintah sendiri, dari data yang diperoleh di
Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Sulawesi Selatan itu ada pada
Perubahan Rencana Strategis (RENSTRA) 2013-2018, diantaranya tentang Program Perlindungan
Kawasan Konservasi Sumberdaya Alam, Koordinasi Dan Pengembangan Dan Pemantapan
Kawasan Konservasi/Esensial, Koordinasi Dan Pembinaan Pelestariaan Kawasan
Karst, Program Pembinaan Dan Koordinasi Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Dan
Plasma Nutfah Dan Program Sulsel GoGreen. Namun, menurutnya belum ada respon
dari Pemerintah Daerah dalam hal membantu baik dari fasilitas maupun dana
pengelolaan.
“Dalam mengembangkan dan
menjaga RHD, sebenarnya tidak cukup kalau melakukannya sendiri, dan menurut
saya disitulah perannya pemerintah. Karena mereka punya anggaran, punya
kebijakan, mereka punya resource, punya apa ya, tahap segala macam. Sayang itu tidak terbaca oleh pemerintah.”,
tutur Pak Denassa.
Hal seperti ini memang
tanggung jawab kita bersama, tapi tentunya dari semua komponen bangsa yang
paling bertanggung jawab adalah pemerintah sendiri, dan itu yang tidak terpikirkan
oleh pemerintah. Beliau bukan orang yang digaji oleh negara, tidak mendapatkan
fasilitas negara, tapi melakukan hal tersebut yang sebenarnya merupakan tanggung
jawab pemerintah.
“Menurut saya, itu yang seharusnya dirasakan dan dilakukan oleh pemerintah, betul ini tanggung jawabnya, ada didalam aturan, ada didalam undang-undang dasar, tapi ternyata dilakukan oleh orang-orang diluar pemerintahan yang tidak mendapat fasilitas, tidak mendapat hak dan segala macam dan dia lakukan itu, mungkin nanti kita bisa menyimpulkan apa yang saya sampaikan” ujar beliau.
Dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan
yang berbasis edukasi RHD tidak sendiri juga, Rumah Hijau Denassa membuka kesempatan
kepada relawan yang ingin belajar untuk datang berkomunikasi dan bersama-sama
melakukan kegiatan-kegiatan untuk komunitas, dan beberapa komunitas yang
berlatarbelakang lingkungan datang untuk belajar. Kegiatannya itu diantaranya adalah
Kemah Buku, dan Piknik Hijau Hari Bumi 2015 silam, dan ada banyak lagi kegiatan-kegiatan
yang dilakukan oleh RHD bersama dengan komunitas-komunitas lain.

Berbeda dengan komunitas-komunitas lain, yang
menetapkan tarif hingga ratusan ribu rupiah. Rumah Hijau Denassa (RHD) dalam
pengembangannya tidak terlalu berfokus pada bidang ekonomi, namun lebih pada
pengembangan kualitas intelektual anggota kelas komunitas maupun masyarakat
setempat. Di RHD sendiri memang ditetapkan tarif untuk orang yang datang
belajar maupun melaksanakan kegiatan dilokasi tersebut, yakni Rp.10.000 –
Rp.15.000 perorang namun itu bukan sebagai biaya masuk, melainkan untuk
konsumsi per masing-masing orang dan itu disediakan oleh Rumah Hijau Denassa.
Awal-awal kegiatan itu memang peserta dibolehkan membawa makanan, namun masalah
yang ditimbulkan adalah sampah. Bukan RHD tidak memberitahukan, tetapi
kesadaran akan membuang sampah yang masih kurang. Dari pertimbangan tersebut
sehingga pak Denassa menetapkan peraturan seperti itu, dan juga dalam
menyediakan makanannya RHD sudah menggunakan yang namanya eco-box sebagai pembungkus makanan.“Sejauh ini apakah ada investasi
yang terbangun? meskipun dalam skala kecil?”.
“Investor itu belum ada ya, tapi kita tidak menutup peluang.” Sahut beliau. “mengenai investasi, jangan salah ya, ini merupakan investasi jangka panjang, karena ini kan edukasi. Anak saya juga itu bagian dari investasi yang saya bangun, agar dia tidak melakukan lagi apa yang saya lakukan. Maksudnyaa begini, saya kan sudah mulai menanam, kemudian sudah menceritakan, berusaha, sudah belajar. Jadi yang saya lakukan itu investasi yang luarbiasa yang saya lakukan itu adalah menjaga supaya anak saya itu tidak perlu belajar dari awal, dia tidak perlu melakukan apa yang saya lakukan, dia tinggal melanjutkan. Nah itu yang sangat luarbiasa. Memang kalau dihitung dalam bentuk uang, secara kasat mata mungkin agak repot hitung-hitungnya, tapi kalau dari segi investasi ya tidak ternilai, Itu bagian dari investasi dan itu memang tidak mengeluarkan banyak uang, tapi ada yang lebih mahal daripada uang, yaitu ide, kerja keras & konsistensi.”. Tambah Pak Denassa.
“Dalam mengembangkan dan menjaga RHD, sebenarnya tidak cukup kalau melakukannya sendiri, dan menurut saya disitulah perannya pemerintah. Karena mereka punya anggaran, punya kebijakan, mereka punya resource, punya apa ya, tahap segala macam. Sayang itu tidak terbaca oleh pemerintah.”, tutur Pak Denassa.
Sambil menunjukkan beberapa fasilitas dan memperlihatkan beberapa tanaman yang dibudidayakan di RHD beliau menceritakan tantangan yang dihadapi, “Tantangannya itu banyak, pertama dari segi ekonomi, kemudian tanaman yang kita mau selamatkan itu tidak ada di tempat kita, jauh itu tempatnya untuk didapat, selanjutnya kalau sudah didapat kita masih awam bagaimana metode pemeliharaannya, dia itu sukanya dalam suasana apa, diteduhi, terbuka sedikit atau terbuka penuh. Yang selanjutnya kalau sudah ditanam kadang ada hewan datang, misalnya ayam apa segala macam, itu juga tantangan. Belum lagi pada saat dia butuh air, butuh dipupuk. Belum lagi saya tidak suka kalau banyak daun, belum lagi itu tidak mungkin tidak ada daun kalau banyak pohon, apa lagi kalau musim-musim begini, sebentar berhembus angin, dimusim kering berhembus angin dimana setiap hari itu, pohon harus mengeringkan daunnya, untuk mengurangi penggunaan makanan, air dan segala macam, maka selesailah, kita baru selesai menyapu bahkan yang didepan belum selesai di sapu di belakangnya itu sudah banyak yang jatuh itu juga tantangan. Belum lagi untuk orang yang datang belajar, masing-masing orang punya keinginan yang berbeda, pikiran yang berbeda, tanggapan yang berbeda, belum serasi kan. Banyak orang kan yang mungkin liburannya di Singapura, tiba-tiba datang kesini karena harus kesini dari sekolahnya, menurut ekspektasinya dia harusnya kayak di Singapura, itu juga tantangan. Tantangan yang lain itu yang paling besar itu adalah luas lahan, yang utama sekarang kan itu 1 hektar tambah 2 hektar itu lebih banyak menyelamatkan lebih banyak tanaman. Di tengah kampung juga banyak tantangan, selain peluang juga banyak tantangan, ditengah kampung kemudian pohonnya terus berkembang terus jadi besar, bagaimana nantinya itu juga tantangan, jadi banyak. Ya caranya kita terus berusaha menemukan strategi dan tempat yang tepat misalnya ada pemebebasan lahan yang lahannya lebih baik kemudian difungsikan sebagai tempat konservasi.” Cerita beliau.
“Jadi saya mengubah
masalah itu menjadi tantangan, karena kalau masalah kan cenderung kita tidak
selesaikan, kalau tantangan kan terdorong kita untuk memenuhinya. Dan tantangan
itu kalau kita cerdas atau cermat melihatnya itu bisa menjadi peluang.” Tambah
pak Denassa
Beliau menyampaikan
kepada saya, bahwa beliau juga mempunyai mimpi yang lain terkait dengan upaya
pelestarian lingkungan hidup. Konsep yang ia sebutkan adalah Konsep Green Culture, yaitu menjadikan tempat
tersebut menjadi tempat wisata budaya dan lingkungan hidup. Jadi nantinya
pengunjung itu datang ketempat tersebut 1 hari atau 2 hari ataupun sampai
seminggu merasakan bagaimana jadi orang makassar, dengan tinggal di rumah adat
makassar (Rumah Panggung), makan makanan makassar, berbahasa makassar, bermain
permainan tradisional makassar dan suasana seperti itu ditunjang dengan keberadaan
lokasi tersebut di tengah sebuah hutan kecil di Bontonompo. Dan mungkin konsep
tata bangunannya seperti di Toraja, yakni saling berhadap-hadapan dan jarak
antar Rumah Panggung mungkin sekitar setengah hektar. itu mungkin haarapan
beliau terhadap pengembangan RHD kedepannya.
“saya berpesan kepada mereka untuk nantinya RHD ini tidak dijual, tapi dikembangkan karena peluang dan manfaatnya besar sekali. Saya pernah ke Saung Ujo, dan saya harap RHD nantinya seperti itu.” Katanya.
Dan untuk jangka pendek adalah banyak orang-orang bisa terdorong untuk belajar dan peduli terhadap lingkungan serta budaya. “Saya ingin menyampaikan kepada orang bahwa ada sesuatu hal yang perlu kita jaga bersama, dan ini merupakan salah satu yang paling penting dari segala aspek kehidupan.” Tambah beliau.
Tentunya sebagai salah
satu faktor terpenting dalam segala aspek kehidupan, lingkungan banyak
mengajarkan kita bagaimana kemudian menjaga sesuatu yang kita miliki, dengan
memberi perhatian dan kepedulian kita terhadap itu. Bukan hanya itu, lingkungan
memberi dampak yang sangat besar bagi seluruh kehidupan yang ada di Bumi, baik
itu mikro organisme, hewan, tumbuhan apalagi kita sebagai manusia yang punya
andil besar dalam segala yang terjadi pada lingkungan. Perubahan iklim yang
tidak dapat diprediksi, bocornya lapisan ozon dan pencemaran lingkungan (baik
itu air, tanah maupun udara), hal-hal tersebut merupakan satu dari banyaknya
dampak yang terjadi apabila lingkungan tidak dijaga dan dirawat dengan baik,
dan dampak-dampak tersebut sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan kita.
Apabila lingkungan kita baik maka hidup kita akan baik pula. Dan edukasi
merupakan salah satu jalan untuk bagaimana membangun karakter bangsa yang
cerdas, peduli dan berkualitas sejak usia dini, dan itu ada di Rumah Hijau
Denassa (RHD).
Saya berharap Rumah Hijau Denassa bisa
berkembang kedepannya sesuai dengan apa yang diimpikan oleh pak Denassa, dan
terus menjadi sebuah wadah dan salah satu aktor dalam mengkampanyekan
pentingnya lingkungan dengan mendapat dukungan penuh dari semua pihak.
Author
Ovan Affandi
Untuk Informasi tentang Rumah Hijau Denassa (RHD)
Bisa diakses di blog resminya





Komentar
Posting Komentar